Follow by Email

Jumat, 08 Juni 2012

Baluran : Perfect Place to Escape

Baluran. Dulu saya kenalnya Baluran itu Suaka Margasatwa yang menjadi tempat perlindungan untuk banteng. Itu dulu. Jaman masih SD. Jaman masih harus menghapal Cagar Alam dan Suaka Margasatwa di pelajaran IPS. Sekarang semua Cagar Alam dan Suaka Margasatwa kayaknya sudah berubah nama menjadi Taman Nasional. Baluran National Park. Dan, mengunjungi Baluran sama sekali tidak ada dalam rencana jangka pendek maupun jangaka panjang saya. Sama seperti ketika mengunjungi Sukamade di TN. Meru Betiri yang merupakan tempat konservasi penyu, dan seperti juga ketika mengunjungi TN. Alas Purwo dan Pantai Plengkung yang terkenal dengan G-Land nya. Semuanya serba mendadak.

Seperti kunjungan saya ke Baluran ini juga, awal Mei 2012. Mendadak dangdut. Kelas Biologi Laut semester ini harus ada praktikum lapang. Itu hukum dasar yang digunakan sebagai legal aspect, walaupun sebenarnya itu hanyalah alasan untuk kembali mbolang. #killingguilty. Dan gayung pun bersambut, kelas sangat antusias sekali dengan praktikum lapang ini. Segala persiapan mereka atur sendiri. Dan saya, sebagai komandan, tinggal terima laporan beres.


Pagi itu 6 Mei 2012. Rombongan menuju Baluran pun berangkat. Dengan TRUK. What a great mbolang kali ini. Setelah sebelumnya mengunjungi Sukamade dengan land rover dan TN Alas Purwo dengan Travello, sekarang pakai truk. Yea, feel mbolang kali ini jadi lebih berasa mbolangnya. Hahaha
Jarak menuju pintu masuk TN Baluran ternyata tidak terlalu jauh dari gerbang selamat datang Kabupaten Situbondo dari arah Banyuwangi. Sekitar 2-3 km, yang artinya pintu masuk TN Baluran ini hanya sekitar 35km dari pusat kota Banyuwangi. Sampai pintu masuk, rombongan melakukan registrasi (Rp.2500/orang, ditambah Rp. 6000/kendaraan). Ritual wajib setelah registrasi (berlaku untuk acara mbolang di manapun) adalah sesi pemotretan.  Itu penting untuk bukti otentik bahwa We’ve been there. Oh iya, sebagai komandan, saya didampingi oleh my besty, Irma. Yang jauh – jauh datang dari Jember. Jadi lebih berasa serunya. Saya tidak membayangkan bila sebagai komandan perjalanan, Irma tidak ada, bisa – bisa matgay, alias mati gaya saya di depan peserta kelas Biologi laut yang Unyu- Unyu ini.

sesi pemotretan bersama para unyu'ers
Dan, selanjutnya hutan tropis yang hijau sepanjang tahun pun membentang di depan. Jauuuuh sekali masuknya menurut saya. Mungkin ini efek dari jalan yang jelek jadi membuat perjalanan yang hanya berjarak 15-20 KM ini terasa jadi seperti ribuan kilometer. #lebay# Dan. Rimbunnya hutan hijau kemudian terkuak, sebelah kiri, gunung Baluran angkuh berdiri dan di sebelah kanan, savana membentang. Destinasi 1 tercapai. Savannah Bekol. Begitu sampai di savannah ini, saya seperti berada di antah berantah. Pertanyaannya adalah, apakah ini masih masuk ke dalam wilayah endonesia raya? Ya, iyalah masuk. Pertanyaan yang aneh.

Saya masih aja bengong melihat rusa di tengah savannah. Ndeso ah saya ini. Lihat ibu – ibu rusa arisan aja aneh.

ibu rusa malu dipotret


gunung baluran melatar savannah

Lanjut, setelah sesi bengong selesai, truk kemudian membelah savannah menuju pantai Bama yang hanya berjarak 3 KM dari savannah Bekol. Di tengah jalan, sempat melihat juga ada serombongan ibu  - ibu merak pulang arisa, eh hey... Ada bapak rusa pulang fitness juga. Ternyata mereka tengah negrumpi di rimbunnya semak. Puas jeprat – jepret, perjalanan dilaju lagi. Bama.

Ouh, airnya sedang pasang. Kami harus menunggu air surut  untuk bisa senorkel. Sementara air belum surut rombongan berjalan menuju sebelah utara (sebelah kiri tepatnya, karena saya ga paham mana utara mana selatan) pantai, dimana terdapat hutan bakau. Nah, ternyata, disini air terlalu tinggi untuk kami melakukan plotting. Akhirnya? Semua mhs main air. Dan saya? Ikut juga pastinya. Dalihnya? Memberi contoh plotting. Hahahaha...


technical meeting


pantai peri
Puas plotting di kedalaman air, kami berpindah menuju Dermaga Cinta (yaelah ini siapa sih yang kasih tau si Irma kalo namanya lebaytun begini). Sebenarnya Dermaga Cinta ini lebih mirip geladak yang membelah rimbunnya hutan bakau. 

di rimbunnya hutan bakau
Di ujung geladak, tara..... Laut! Tidak terlalu dalam dan ada tangga menuju ke air. Surprise-nya. Dari atas sudah terlihat ada terumbu. Kereeeeen.

with my besty di dermaga cinta (sandalnya bo')
Akhirnya waktu surut yang dinantikan tiba juga. Rombongan  kemudian turun untuk melakukan pengamatan bawah air. Dan itu pengalaman pertama saya snorkeling. Dan ternyata dunia bawah air itu amazing sangaaaattt... #lebaytun lagi. Lepas dari pantai, padang lamun menghampar. Baru kali ini saya melihat langsung padang lamun. Habitat yang disebut sebut dapat menyerap karbon dioksida 2 kali lipat dari tumbuhan dai darat. Dari yang ukuran besar sampai di ukuran mini.

Berenang terus ketengah, akhirnya saya ketemu dengan terumbu karang. Heeeem, rasanya gimanaaaa gitu. Hahahaha, lebaaaayyy. Ada karang meja, karang tanduk rusasoft reef, anemone laut, terus ada apa lagi ya? Banyak. Ada ikan yang unyu – unyu, ada juga bintang laut dari yang kecil, sampe yang berdiameter sekitar 30 cm. Saking terseponanya dengan keindahan bawah air, kami serombongan tidak menyadari bahwa air sudah sangat  surut. Dan, karena sudah terlalu dangkal, maka air lautnya sudah tidak bisa lagi direnangi. Akhirnya , yak, kami berjalan dengan sangat hati – hati. Mencari sisi dasar yang tidak terdapat karang. Menginjak karang berarti merusak ekosistem, dan itu pantangan terbesar bagi yang berwisata di Pantai Bama ini.



puas senorkel, nampang dulu
Untuk melakukan senorkeling di pantai Bama, wisatawan bisa menyewa masker-snorkel di Sekretariat Resort Bama. Harga sewanya sekitar 35 – 50 ribu including kaki kataknya. Oh iya, snorkel hanya boleh dilakukan di dalam batas area yang diizinkan (ada pembatas dari tali dan pelampung). Karena beberapa meter dari area senorkel Bama terdapat palung yang cukup dalam. Ada kawan dari kawan saya di kantor yg tenggelam di palung tersebut dan meninggal ketika melakukan snorkeling di Bama.

senja yang sunyi


Akhirnya hari itu petualangan harus disudahi dengan melakukan plotting di wilayah padang lamun yang telah surut. Satu rantai makanan ditemukan. Praktikum diselesaikan. Dan bonusnya, menembus keremangan senja di hutan Baluran untuk perjalanan pulang, ada seekor macan tutul yang hendak pulang ke peraduan. Sebuah penutup hari yang sangat indah.


5 komentar:

  1. weiii...makin dipamerin di blog..

    SEngaja neh bikin diriku mupeng ya karena edisi kemarin ketinggalan mbolang

    BalasHapus
  2. Well....sajian narasi yang mengesankan ditambah gambar-gambar yang natural bikin suasananya lebih hidup,it's good(wiiihhh...penulisnya jadi terbang neeeeehhhh.......)

    BalasHapus
  3. menarik juga tempat nya...benar2 natural...macam di aceh tempat saya( sabang)

    BalasHapus
  4. Blognya kok vakum? ;-) #smangad

    BalasHapus
  5. @rahmat amin,... parasut, mana parasut...

    @Jol, yup, sama menariknya, tempat terbaik untuk mengagumiNYA

    @Eksak... kebanyakan mikir bakteri heheh

    BalasHapus

Author

authorBanyuwangi the Sunrise of Java, Indonesia jalan - jalan, berbagi ilmu, berbagi pengalaman, karena dengan menulis kita belajar.
Learn More ?



Pengikut